Sejarah Gol Spektakuler Plus Selebrasi Nyeleneh ala Paul Gazza, Mabuk?

Sejarah Gol Spektakuler Plus Selebrasi Nyeleneh ala Paul Gazza, Mabuk?

arenasportsid –  Liar, urakan, dan kontroversial. Ketiga hal itu adalah gambaran umum mengenai sosok gelandang andalan tim nasional Inggris era 1990-an Paul “Gazza” Gascoigne. 

Saking seringnya bikin ulah, entah di dalam atau luar lapangan, Gazza sampai dijuluki Si Badut oleh surat kabar Inggris. Bukan cuma itu, ada juga yang melabelinya dengan sebutan George Best Without Brains alias George Best Tanpa Otak. 

Harus diakui bahwa Gazza memiliki kemampuan teknik di atas rata-rata, bahkan bisa dibilang brilian. Akan tetapi, dia sering melakukan aksi indisipliner yang merugikan diri sendiri beserta timnya.

Salah satu kelakuan bodoh Gazza yang mendapatkan kecaman publik adalah saat ia bersama rekan setim mengadakan pesta minuman keras di sebuah klub malam menjelang pertandingan pembuka Euro 1996.

Lebih parah lagi, Paul Gazza berandil menjerumuskan pemain Inggris lain dengan beraksi nyeleneh di atas sebuah kursi dokter gigi yang terdapat di klub malam tempat ia berpesta. Dia duduk rebahan kemudian meminta rekan-rekan menuangkan minuman ke mulutnya.

Perilaku Gazza dkk. sontak membuat publik Inggris murka. Tidak sepantasnya tim asal negara yang berstatus tuan rumah Euro 1996 menggelar pesta minuman keras ketika penyelenggaraan turnamen tinggal menghitung hari.

Rakyat Inggris semakin naik pitam setelah mengetahui timnasnya hanya mampu bermain imbang 1-1 kontra Swiss di laga pembuka. Para pemain, termasuk Gazza, menjadi kambing hitam lantaran dianggap tidak memandang Euro 1996 secara serius.

Berselang sepekan kemudian, Inggris mesti melakoni matchday kedua fase grup versus Skotlandia, 15 Juni 1996. Rivalitas sengit bertajuk derbi Britania Raya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun membumbui bentrokan kali ini.

Seolah ingin membayar kesalahan, Inggris tampil jauh lebih baik dengan melancarkan serangan bertubi-tubi ke gawang Skotlandia. Upaya mereka berbuah gol melalui tandukan jarak dekat Alan Shearer menyambut umpan silang Gary Neville pada menit ke-53.

Inggris terus menekan, tapi Skotlandia pantang menyerah. Kesebelasan berjulukan The Tartan Army itu sanggup menciptakan peluang gol lewat titik putih menyusul pelanggaran Tony Adams terhadap Gordon Durie di kotak terlarang.

Sayangnya, eksekusi penalti yang diambil kapten Skotlandia, Gary McAllister, berhasil digagalkan secara gemilang oleh David Seaman. Kedudukan 1-0 untuk keunggulan Inggris tak berubah dan para pemain kembali melanjutkan serangan.

“Menghalau penalti McAllister adalah penyelamatan terpenting sepanjang karier saya. Tebakan saya mengenai arah tendangan memang salah, tapi toh keberuntungan masih berpihak kepada kami,” ujar David Seaman.

Memasuki 10 menit terakhir, Inggris menciptakan momen magis. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Paul Gascoigne, sosok pesakitan yang tadinya dianggap sebagai biang kerok plus otak di balik pesta minuman keras sebelum turnamen.

Menyadari barisan pertahanan Skotlandia kosong melompong, Gazza mengolah bola matang hasil operan jauh Darren Anderton. Dia menggunakan kaki kiri untuk melambungkan si kulit bundar sekaligus mengelabui bek lawan, Colin Hendry. 

Hendry terjatuh dan di saat bersamaan Gazza mengontrol bola lalu melepaskan tembakan keras yang tak mampu diredam kiper Skotlandia, Andrew Goram. Sekilas gol ini mirip dengan salah satu aksi legenda Brasil, Pele, di final Piala Dunia 1958. 

Selebrasi Dokter Gigi

Pendukung Inggris bersorak kegirangan merayakan gol Paul Gazza, tapi pertunjukan belum selesai. Sang pemain melakukan selebrasi unik yang diakuinya sebagai sindiran kepada media-media lokal terkait pesta minuman keras sebelum turnamen.

Gazza berbaring di atas rumput sambil membuka mulut lalu meminta rekan setimnya menuangkan minuman. Tiga pemain Inggris, Alan Shearer, Steve McManaman, dan Jamie Redknapp ikut terlibat dalam aksi teatrikal yang belakangan dikenal dengan sebutan “Selebrasi Dokter Gigi” tersebut.

“Sebuah gol kelas dunia dari Gazza. Lesatan fantastis ini secara tak langsung telah menunjukkan kehebatan sang pemain,” cetus Alan Shearer. 

“Media-media boleh menulis apa saja tentang gol Gazza, tapi bagi saya gol tersebut jelas-jelas spektakuler dan berkelas,” pungkasnya.

Sungguh ‘pembalasan’ yang manis dari Paul Gazza. Setidaknya surat kabar lokal berhenti melontarkan kritik serta mencelanya pada keesokan hari.

Susunan Pemain:

Skotlandia (4-4-2):12-Goram; 2-McKimmie, 4-Calderwood, 5-Hendry, 3-Boyd; 13-T. McKinlay (16-Burley 82′), 8-McCall, 10-McAllister, 11-Collins; 7-Spencer (9-McCoist 67′), 14-Durie (15-Jess 87′) Cadangan: 1-Leighton, 22-Walker, 6-Whyte, 17-B. McKinlay, 18-Gallacher, 19-Jackson, 20-Booth, 21-Gemmill 

Pelatih: Brown

Inggris (4-4-2): 1-Seaman; 2-G. Neville, 5-Adams, 6-Southgate, 3-Pearce (15-Redknapp 46′ [16-Campbell 85′]); 11-Anderton, 4-Ince (20-Stone 80′), 8-Gascoigne, 17-McManaman; 10-Sheringham, 9-Shearer Cadangan: 13-Flowers, 22-Walker, 7-Platt, 12-Howey, 14-Barmby, 18-Ferdinand, 19-P. Neville, 21-Fowler

Pelatih: Venables

Stadion: Wembley (76.864) Gol: Shearer 53′, Gascoigne 79′ Wasit: Pairetto (Ita) Kartu Kuning: Collins, Spencer, Hendry (S)/Ince, Shearer (I) Kartu Merah: –

Berita Olahraga